Lompat ke konten

AKSI MASJID PEDULI (AMPLI)

  • oleh

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِ(Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian)
Yakni mereka merupakan orang-orang yang berkemampuan untuk memakmurkan masjid-masjid, dan bukan dari orang-orang musyrik dan kafir.

وَلَمْ يَخْشَ (dan tidak takut)
Kepada siapapun.

إِلَّا اللهَ ۖ( selain kepada Allah)
Maka barangsiapa yang beriman dan bertauhid yang menjalankan amal-amal shalih ini sebagaimana yang diperintahkan Allah maka ia berhak untuk menjadi orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid, dan bukan orang yang tidak menjalankan amal-amal tersebut.

فَعَسَىٰٓ أُو۟لٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ الْمُهْتَدِينَ (maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk)
Jika pemberian petunjuk kepada orang-orang yang beriman itu baru sekedar sesuatu yang diharapkan, lalu bagaimana dengan orang-orang kafir yang tidak memiliki sifat-sifat yang telah disebutkan.

Referensi: https://tafsirweb.com/3034-surat-at-taubah-ayat-18.html

AMPLI-AMPLIFIER

Ampli adalah alat yang tak pernah bisa lepas dari masjid. Pengurus masjid menyebutnya ampli. Istilah lengkapnya sebenarnya adalah amplifier. Sebuah alat yang digunakan untuk memperkuat suara dan menyalirkannya melalui speaker yang dipasang di tempat yang lebih tinggi.

Aksi masjid peduli disingkat ampli. Fungsinya kurang lebih sama; untuk memperkuat suara. Beda amplifier dengan ampli adalah amplifier menyuarakan panggilan azan, sementara ampli menyuarakan panggilan kemakmuran, kemakmuran masjid.

Dalam bahasa Indonesia, Kata dasar kemakmuran adalah makmur. Sementara dalam bahasa arab, kata dasar dari makmur adalah amr yang dalam huruf arab ditandai dengan huruf hamzah, mim dan ro (ءمر)

Kata ‘umrān di dalam bahasa Arab adalah ‘amara (‘ain-mim-ra’). Kata ini memiliki banyak makna, di antaranya adalah “berkembang” (to flourish), “berkembang pesat” (to thrive), dan “makmur” (to prosper).

Masjid yang makmur berarti masjid yang bertumbuh, berkembang pesat, dan prosper. Jika melihat sejarah Rasululullah bersama masjid Nabawi, maka definisi bertumbuh dan berkembang bukanlah fisiknya, melainkan fungsinya. Sebab, dari awal hingga wafatnya Rasulullah, bangunan Masjid Nabawi masih nyaris tak mengalami perubahan sama sekali. Masih bertembok bata, beralas tanah dan beratap pelepah kurma. Walaupun demikian, coba lihat kualitas sumber daya manusianya, dahsyat betul.

Di wilayah hanya seluas desa di pulau Jawa, dari masjid itu lahir pengusaha kaya raya, juga panglima perang pilih tanding. Ilmu pengetahuan berkembang pesat mulai dari sastra, matematika, ilmu bisnis, teknologi logam, manajemen perang, juga teknologi pertanian.

Masjid Nabawi dengan masyarakat Madinah nya adalah sebuah role model yang realistis. Artinya, jangan rumit-rumit bagaimana merubah dan memperbaiki republik indonesia yang sepanjang benua eropa ini. Berat. Pikirkan saja bagaimana salam 5-10 tahun masyarakat se kelurahan tak ada yang kelaparan, dan para anak mudanya bisa memperoleh akses pendidikan terbaik.

Disinilah peran AMPLI. Ga muluk-muluk. Simple.

Walaupun simple, diperlukan kesungguhan untuk melaksanakannya. Harus serius. Harus bersungguh-sungguh. Karena yang akan diurus adalah masyarakat, bukan sekedar mengurus jadwal khatib dan menghitung uang infaq sholat jumat.

Orang yang bersungguh-sungguh ini dalam Alquran diistilahkan dengan kalimah “mujahid”. Akar katanya جهاد. yang berarti menggunakan atau mengerahkan sepenuh kekuatan, usaha, upaya. Sementara orangnya, diistilahkan dengan Mujahid. (مجاهد).

Para mujahid di jaman Rasulullah adalah sosok manusia yang multi profesi. Mereka adalah pengusaha yang bergerak dalam bidang pertanian dan perdagangan. Tapi mereka juga bekerja mendukung aktivitas perbaikan di Madinah dan sekitarnya, menjadi santri, mengajar, mengumpulkan pengetahuan, bahkan ikut berperang.

Para Mujahid seperti inilah yang membersamai perjuangan Rasulullah membangun masyarakat madinah. Tak heran jika masyarakat Madinah dapat bertumbuh dengan teramat cepat.

Struktur jiwa untuk mengelola masjid makmur agaknya perlu kita revisi. Dimulai dengan merevisi istilah bagi para pengurus dan penggeraknya terlebih dahulu.

Maka kita menawarkan istilah Mujahid Masjid. Dan mereka yang ingin mengasah kemampuan dalam bisang ekonomi sebagaimana para mujahid di zaman nabi, kami buatkan sebuah komunitas yang disebut MUJAHIDPRENEUR.

Nanti malam Mujahidpreneur akan melakukan forum online ke tiga. kang Dewa Eka Prayoga yang akan menjadi pengasuhnya. Rencananya para peserta akan diajak praktik berbisnis secara langsung. Bukan sekedar belajar di atas meja. Yang mau ikutan silahkan gabung lewat tautan grup. Di grup, saya akan share linknya.

Insyaallah para Mujahidpreneur ini yang akan kita ajak pula untuk menjalankan AMPLI, Aksi Masjid Peduli. Sebuah platform pemakmuran masjid yang insyaallah akan menguatkan suara kepedulian masjid terhadap mustahik dalam bidang sosial dan pendidikan.

Masjid makmur, Indonesia Maju!

Salam Mujahid
Beni Sulastiyo
——

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *