Mari renungkan baik-baik:
Mengapa setiap kali kita membuka peta pangkalan militer amerika di timur tengah, kenapa titik-titik terpadatnya justru berada di wilayah yang dikenal sebagai pusat kekuasaan dan penyebaran sekte salafi-wahabi.?
Apakah ini sekadar kebetulan geopolitik.?
Atau ianya ada benang merah sejarah yang sengaja di kaburkan.?

Mari kita mundur sejenak:
Pada tahun 1915, inggris menandatangani perjanjian darin dengan abdu al-‘aziz ibnu saud. Inggris, sebagai kekuatan kolonial terbesar saat itu memberikan perlindungan, dana, dan senjata.
Adapun sebagai imbalannya, Inggris memaksa abdu al-aziz untuk memberi dukungan untuk melemahkan daulah ‘utsmaniyah dan mengguncang tatanan politik islam saat itu.
Pertanyaannya sederhana:
Mengapa gerakan yang mengklaim paling anti-bid‘ah dan paling memurnikan tauhid, itu justru lahir dan tumbuh di bawah payung perlindungan imperium besar non muslim sebut saja seperti inggris.?
Lalu pada tahun 1945, di atas kapal perang USS quincy, presiden amerika franklin D. Roosevelt bertemu dengan abdu al-aziz as-saud. Pada perjanjian itu minyak ditukar dengan perlindungan, tahta ditukar dengan keamanan, maka sejak hari itu, aliansi strategis amerika, saudi menjadi fondasi politik kawasan.
Ironisnya, di saat yang sama, retorika keagamaan yang keras terhadap sesama muslim justru makin menguat-sekali lagi-retorika keagamaan yang keras terhadap sesama muslim justru makin menguat .
Lalu tatkala masuk era perang dingin.
Kala itu dunia terbelah antara barat dan uni soviet. kala itu nasionalisme arab menguat di bawah tokoh seperti gamal abdel nasser.
Maka lalu apa yang terjadi.?
Miliaran dolar mengalir untuk menyebarkan ideologi wahhabiyah ke berbagai negeri muslim, masjid, sekolah, beasiswa, buku-buku, itu semuanya dibiayai.
Bahkan mohammad bin salman sendiri pada 2018 mengakui bahwa penyebaran tersebut terjadi dalam konteks permintaan dan dorongan negara-negara barat untuk menghadapi soviet.
Lalu artinya apa.?
Ekspansi ideologi itu bukan semata dakwah, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik global.

Sekarang lihat realitas hari ini.
Puluhan ribu tentara Amerika bertahan di qatar, arab saudi, bahrain, kuwait, uni emirat arab, yordania, irak, dan suriah timur.
(Nb: saya masih belum tau kepastian pemimpin indonesia saat ini condong nya kemana).
Pangkalan udara, sistem pertahanan rudal, armada laut, logistik perang, itu semuanya beroperasi permanen di negara-negara yang telah saya sebutkan di atas.
Sedangkan wilayah-wilayah tersebut di atas itu adalah pusat kekuasaan atau basis kuat penyebaran salafi wahhabi.
Bukankah ini memunculkan pertanyaan yang dapat mengganggu waktu tidur anda.?
Mengapa gerakan yang paling keras menuduh umat islam selain mereka sebagai ahlul bid‘ah, bahkan menuduh musyrik, itu justru paling sunyi ketika tanahnya dipenuhi pangkalan militer asing kafir.?
Mengapa retorika “pemurnian akidah” itu begitu lantang hanya terhadap tahlil, maulid, dan tawassul, tetapi nyaris tak terdengar terhadap dominasi militer kafir para pembunuh orang islam.?!
Tentu, tidak semua yang berlabel salafi/wahabi adalah bagian dari permainan ini. Salafi wahabi itu bukan satu blok yang seragam. Ada yang lembut, dan ada juga yang jauh dari politik.
Namun sejarah perjanjian dengan Inggris.
Sejarah aliansi di atas kapal USS Quincy.
Sejarah penyebaran ideologi dalam konteks Perang Dingin.
Dan realitas pangkalan militer amerika di negara-negara arab yang saya sebutkan di atas pada hari ini.
Itu semua itu telah membentuk pola.
Dan pola yang berulang secara konsisten, rasanya itu terlalu sulit untuk disebut kebetulan-sekali lagi-rasanya itu terlalu sulit untuk disebut kebetulan.
Maka di sinilah kecurigaan lahir, ianya tidak berasal dari kebencian, tetapi dari membaca sejarah dengan mata terbuka.
Link sejarahnya saya sertakan di bawah:
perjanjian darin 1915 – Penelusuran Google
perjanjian amerika dan saudi di kapal uss – Penelusuran Google
والله أعلم.
Semoga ini bisa menyadarkan salafi wahabi
Selesai.
–muhammad zaidun al-ahrory asy-syafi’i–
